Kamis, 11 Februari 2016

Part 1 Charlie



Hai, aku Charlie! Aku anak biasa-biasa saja. Yah.. tidak bisa dibilang begitu juga sih. Aku ini anak teladan di sekolah. Selalu nomor satu. Aku jago olahraga spesialisasi bela diri dan tidak ada yang bisa mengalahkanku dalam hal ini. Aku juga anak yang mudah bergaul, temanku sangat banyak. Namun, aku punya satu kekurangan yang amat fatal. Aku sama sekali tidak bisa bersikap seperti anak perempuan biasanya
“ Charlie! Turun dari sana! ”
Papaku tersayang, namanya Bram berteriak dari bawah. Aku ada di atas genteng, memperbaiki antena sekalian seng yang bolong. Aku melongok ke bawah dan melihat papaku di sana.
“ Turun! Biar aku saja yang memperbaikinya! ” teriaknya lagi.
“ Aku sudah selesai kok! ” aku balas berteriak. Aku menepuk-nepuk tanganku yang berdebu dan menghapus keringat dari dahiku.
“ Biarkan aku ambilkan tangga ya? ” kata papa lagi.
“ Nggak usah! Nanggung! ” jawabku. Aku turun dengan hati-hati menginjakkan kakiku di antara tembok-tembok beton yang licin. Aku melompat saat mendekati tanah. Kulihat papa menghela napas lega saat aku sudah sampai ke tanah dengan selamat.
“ Ya ampun, Nak. Lain kali jangan naik ke atas genteng. ” kata papaku mengacak rambut coklatku.
“ Cepat makan. Papa sudah bikin makan malam kesukaanmu. ”
“ Oke. ”
Saat mama meninggal empat tahun lalu, aku tinggal dengan papa. Hehe, papaku tersayang cukup ditaksir banyak cewek-cewek, loh. Hanya saja papa nggak mau mencari mama baru untukku. Well, mungkin itulah yang membuat aku makin sayang padanya.
“ Wuih! Kelihatannya enak! ” kataku takjub melihat masakan papa yang dihiasi dengan sangat cantik dan rasa yang kelihatan juga sangat enak.
“ Yah.. makanlah. Untuk putriku apa sih yang tidak? ”  kata papa lagi-lagi mengacak rambutku.
“ Papa hari ini akan lembur. Jaga rumah ya? Jangan telat bangun. ”
“ Oke. ”
Papaku bekerja sebagai Editor Film. Dia cukup ahli mengotak-atik tali-tali film. Dia juga sering lembur. Aku juga dilarang kalau ke kantornya. Katanya mengganggu aku yang belajar. Kadang-kadang dia malah membawakan buku dari sana. Aku sih senang-senang saja. Soalnya, aku suka membaca tapi aku sering berfikir. Kalau papa bekerja di perfilman, berarti papa juga cukup dikenal artis dong.
Biarpun begitu, sepertinya tidak ada satupun mengenai pekerjaan yang keluar dari mulutnya kalau dia berduaan denganku. Katanya, pekerjaan dan keluarga amat berbeda. Tuh, kan.. aku semakin menyayangi papa.
“ Mama, hari ini papa mengurusku dengan sangat baik.” kataku mengecup foto mama sebelum aku tidur. Kebiasaan jelek sejak mama meninggal adalah aku selalu tidur dengan televisi menyala, apalagi kalau tidak ada papa. Aku lebih suka kalau ramai. Apalagi semua tugas dan PR juga sudah selesai. Saatnya tidur.
Drrrt. Drrrt. Suara dering telepon yang ada di sudut ruangan. Aku membiarkannya sejenak. Tapi,  rupanya teleponnya tidak berhenti-henti juga. Siapa sih yang menelepon malam-malam begini?
“ Halo? ” kataku mengangkat telepon.
“ Charlie, ini papa. ” kata orang yang di seberang. “ Nak, maaf mengganggu  ya. Bisa tidak kau antarkan dulu CD pekerjaan papa? Ada di kamar papa nggak sempat lagi, nih. Tolong ya. ”
Sebelum aku menyetujui, papa sudah mematikan teleponnya. Sepertinya dia sangat sibuk. Kulirik jam dinding. Sudah jam sebelas malam, tapi karena dia benar-benar butuh, mungkin dia tidak punya cara lain.
Tidak baik bagi gadis –walaupun jago karate- sepertiku berkeliaran ditengah malam. Karena itu kuambil antisipasi. Aku memakai wig milik papa –yang dulu dipakainya untuk drama- dan kacamata milik mama, lalu topi dan jaket. Kuperhatikan diriku dicermin.
Aku ganteng juga ya kalau jadi cowok, batinku.
Kuperhatikan tubuhku yang kecil, wig hitam yang luwes dan menutupi sebagian dahiku., wajahku yang manis –idih! Pedenya aku- dan mata hitamku yang cemerlang. Oh, gosh! Kelihatannya akan banyak cewek yang naksir padaku. Apa pendapat papa ya kalau aku bergaya begini? Dia pasti kaget.
Kuambil CD pesanan papa ada alamat perusahaannya disitu. Aku segera menaiki sepeda motorku dan melesat pergi menerobos udara malam yang dingin. Untung saja, aku pakai banyak baju dalam sehingga tidak kedinginan. Akhirnya setelah setengah jam, aku sampai juga di Digital Entertainment. Ada satpam yang melirikku sejenak.
Kantor itu sunyi sekali. Mungkin para pegawainya sudah pada pulang. Aku merapatkan jaket hitamku. Kantor papa dimana ya? Gara-gara aku nggak pernah kesini, aku jadi nggak tahu deh.
“ Bagaimana kau ini? Masa kau belum memotret juga? Apa yang kurang? ”
Aku mendengar ada suara dari balik dinding di seberang. Dua orang laki-laki yang sedang berbicara disitu. Yang satu kelihatan lebih tua dan dia kelihatannya memarahi pria bertubuh langsing yang memegangi kamera besar dengan raut wajah kesal.
“ Aku tidak bisa memotret kalau aku nggak pengen, ” kata yang muda.  “ Sudahlah, Adi. Jangan memaksaku terus. Nanti kalau aku sedang mood aku pasti akan memotretnya. ” kata yang muda.
“ Diaz. Ini karirmu! ”
“ Permisi, ” kataku. “ Eh, maaf tiba-tiba mengganggu. ” kataku lagi ketika melihat wajah mereka.
“ Ada apa? Kau siapa? Paparrazi? Apa kau mendengar percakapan kami tadi? ” kata Adi dengan wajah sangar. Aku baru sadar kalau dia memiliki tindik di hidung. Selain itu, cara bicaranya pun agak aneh, seperti banci.
“ Yah... sedikit. Sebenarnya-- ”
“ Awas kalau sampai kau bilang-bilang kepada orang! ” kata Adi. Kulirik Diaz yang diam saja tanpa reaksi.
“ Anu, aku kesini cuma mau bertemu dengan Pak Bram. Dimana aku bisa bertemu dengannya? ”
“ Ada urusan apa kau dengan Bram? ” kata Diaz tiba-tiba.
“ Aku mau mengantarkan CD pekerjaannya. ” jawabku.
“ Dia ada di lantai dua, studio tiga. ” jawab Diaz.
“ Eh, terima kasih. Permisi. ”
Jujur saja, aku takut melihat tatapan Diaz. Dia itu kelihatan seperti akan menelanku hidup-hidup. Hii.. rasanya mengerikan deh. Aku naik lift dan turun di lantai dua. Kemudian berjalan lagi sambil mencari studio tiga. Ternyata di lantai ini cukup banyak orang yang hilir mudik. Akhirnya aku menemukan studio tiga.
“ Permisi. ” kataku perlahan saat membuka pintu studio tiga. Dan aku kaget saat melihat isinya.
Di dalam sana ternyata ada banyak orang. Beberapa di antaranya aku kenal sebagai artis, tapi nggak tahu artis yang mana. Ada yang sibuk memegangi kaca, cermin, kamera, make up. Urusan itu belakangan saja, aku lebih memilik untuk bertemu papa dulu.
“ Siapa kau? ” terdengar suara laki-laki. Laki-laki yang tampan. Wajahnya dingin, matanya tajam, rambutnya hitam dicepak. Kelihatannya wajahnya tidak asing. Siapa ya?  “ Orang luar dilarang masuk. ”
“ Aku mau bertemu dengan Pak Bram. ” kataku perlahan sambil berusaha melihat ke dalam. “ Dia ada? ”
“ Tidak ada. Keluar. ”
“ Eugene, kau sedang apa? ” terdengar teriakan dari dalam.
“ Aku sedang mengusir orang asing. Kelihatannya dia fans. ” kata laki-laki yang bernama Eugene. Aku mengerutkan dahi. Siapa yang penggemarnya. Aku saja tidak kenal.
“ Aku cuma mau bertemu dengan Pak Bram. Setelah itu aku pergi. Ada barang yang harus kuberikan padanya. ” kataku kesal. “ Minggir! ”
Orang-orang dalam ruangan itu sekarang melihat kearahku.
“ Kalau mau mencari Bram bukan disini. Tapi di Editing House, di lantai tiga studio empat. ” kata anak laki-laki lain. Kali ini wajahnya lebih ramah dengan rambut coklat kepirangan.
“ Tapi orang yang bernama Diaz menyuruhku untuk mencarinya kesini.” kataku bersikeras.
“ Diaz? ” ulang suara yang lain. Laki-laki lagi, berapa banyak sih laki-laki di ruangan ini. Kali ini laki-laki yang lebih dewasa dengan stelan rapi kearahku. Tampan juga sih. “ Yang bawa kamera? ”
“ Iya. Nah, bisakah aku bertemu dengan Pak Bram? ”
Laki-laki berstelan rapi itu melihatku dari atas sampai ke bawah dengan penuh minat. Dia mengitariku seakan tidak pernah bertemu manusia sebelumnya.
“ Tubuhmu kecil. ” dia bergumam. “ Wajahmu manis.. boleh juga sih. Agak beda sedikit. Mungkin cowok imut-imut bisa menarik selera. Siapa namamu? ”
“ Charlie! ” kataku jelas dan singkat.
Akhirnya aku mendengar suara yang kukenal. Papa kelihatan habis lari marathon saja, ada keringat di bajunya.
“ Kalau sudah sampai, seharusnya kamu telepon papa dong! Papa nungguin kamu di parkiran selama sejam! Ngapain kamu disini? ” kata papa panik.
“ Bram, ini anakmu? ” kata cowok berjas itu. Papa hanya menggangguk. “ Tampan. Mirip denganmu. Kau tidak keberatan kalau aku bicara dengan dia berdua saja? ”
“ Maaf, Tim. Dia berurusan denganku. Sebaiknya kau mengurusi anak didikmu saja. ” kata papa. Dia menarik tanganku. “ Ayo, Lie. ”
Aku mengikuti papa naik ke lantai tiga. Disana lebih sunyi dan gelap. Papa membuka pintu yang menunjukkan sebuah ruangan yang hanya berhiaskan lampu hijau.
“ Pa, ini dimana? ” kataku heran.
“ Kantor papa. ”
“ Tapi kok gelap banget? ” komentarku. “ Papa betah ya kerja disini? ”
“ Tugas papa memang disini. Filmnya bisa rusak kalo kebanyakan cahaya. Kamu kenapa ada disana tadi? Bukannya langsung menemui papa? ”
“ Habis kata Diaz kalo papa ada dilantai dua, studio tiga. ”
“ Diaz? ”
“ Papa hebat deh masih bisa mengenaliku walaupun aku berpakaian begini. ”
“ Walau bagaimanapun juga, kau kan anakku, Charlie. ” kata papa. Dia duduk di belakang meja yang kelihatan penuh dengan berbagai alat yang dibutuhkannya. “ Sebaiknya kau tidur disini. Papa akan membangunkanmu kalau sudah subuh. Nggak baik kamu pulang malam-malam begini. ”
“ Oke, pa. ”
Aku merebahkan diriku di sofa dan mulai terlelap saat papa tiba-tiba berkata “ Lie, mana CD pesanan papa? ”

-------
“ Charlie, bangun. ”
Aku bangun ketika mendengar suara papa di dekat telingaku.
“ Ini kopi. Kau akan merasa lebih segar. ” kata papa lagi memberikanku secangkir kopi.
“ Thanks, pa. ” kataku menerima secangkir kopi dari pemberian papa.
“ Setelah ini kamu sarapan terus kamu pulang ya. Kamu nggak boleh bolos sekolah. ”
“ Papa? ”
“ Ada pekerjaan yang harus papa urus. ”
Papa menghirup kopinya. Aku juga melakukan hal yang sama.
“ Nah, perlu papa antar sampai ke bawah? ” kata papa lagi.
“ Nggak usah deh, pa. Aku bisa sendiri. ” kataku buru-buru bangkit. “ Papa istirahat saja dulu. Papa kan harus kerja lagi nanti. ” aku mengecup dahi papa. “ Charlie pergi ya, pa. ”
“ Hati-hati dijalan, Charlie. ” kata papa seraya tersenyum.
Aku cuma tersenyum sekilas ketika menutup pintu. Aku menguap lagi. Aduh, kelihatannya aku terlalu capek semalam. Mataku masih ngantuk. Belum lagi hari ini banyak mata pelajaran yang isinya ceramah melulu. Tahan nggak ya mataku untuk nggak tidur?
“ Hei kamu! ”
Aku lapar. Makannya di sekolah, di rumah atau dijalan aja ya? Mesti mandi lagi. Ini dimana ya? Kok ruangannya sama semua ...
“ Cowok kerdil bertopi di depan sana! Tunggu sebentar! ”
Aku berhenti melangkahkan kakiku. Cowok kerdil bertopi? Maksudnya aku?
Aku berbalik untuk melihat si empunya suara. Ternyata Diaz. Apa yang dilakukannya pagi-pagi begini? Masih memakai baju dan kamera yang sama lagi. Dia nggak pulang ya?
“ Apa? Kau memanggilku? ” kataku dengan sikap menantang. Diaz mendekatiku dan menatapku dari atas sampai ke bawah.
“ Sudah bertemu Bram? Aku dengar kalau Bram itu ayahmu? ” katanya. Kenapa dari kemarin mereka bertanya tentang papa terus?
“ Iya. Memang kenapa? ”
“ Aku boleh memotretmu sekali kan? ” kata Diaz lagi.
“ Untuk apa? ” kataku heran.
“ Soalnya aku lagi ingin memotretmu. Bisa kan? ”kata Diaz mengangkat kameranya.
“ Maaf, tidak! ” kataku melewatinya. Enak saja dia ingin memotretku. Memangnya aku siapa? Artis saja bukan.
“ Charlie. ”
“ Apa? ” kataku berbalik.
Jepret. Lampu blitz yang keluar dari kamera Diaz membuatku kaget. Mataku berkunang-kunang.
“ Makasih, ya! ” katanya dan pergi meninggalkanku.
-------

Tidak ada komentar:

Posting Komentar