Sudah seminggu sejak aku mengunjungi kantor papa, hari-hariku kembali
normal seperti biasa, datar, membosankan dan tidak terjadi hal-hal yang
mengejutkan. Kulewati beberapa anak cewek yang bergerombol sambil membuka-buka
majalah. Mereka menyapaku.
“ Pagi, Kak Charlie! ” sapa salah seorang dari mereka.
“ Iya, pagi. ” balasku dan kembali menuju kelasku. Aku kembali menguap.
Hari ini aku begadang menyelesaikan tugas Fisika dan belum lagi hari ini ada
Ujian Kimia. Ngantuk sekali hari ini.
“ Ada apa sih? Lihat dong! ”
“ Keren banget! ”
“ Mau deh! ”
Pembicaraan biasa tiap cewek di sekolah ini adalah mengenai pria model. Aku
cuek saja. Maklum. Aku tidak mengerti hal-hal yang begituan. Tapi kalau
mengenai rumus-rumus kimia atau fisika padaku, aku akan menyemburkan semuanya
padamu.
“ Pagi, Charlie! ” sapa Carla secara sekilas saat aku memasuki kelas.
Setelah itu dia kembali mengobrol dengan Riesan. “ Cowok ini keren banget. Tapi
kenapa cuman ada satu sih fotonya? ”
“ Lie, udah siap tugas Fisika? Nyontek dong! ” ucap Khalil. Ketua kelasku
sekaligus Ketua Osis.
“ Nih, aku udah buat jalan yang beda. ” kataku memberikan buku khusus-buku
berisi contekan dengan jalan yang lebih berbeda
dari sebelumnya.
‘ Thanks, ya. Oi, semua. Nih ada contekan! ” teriak Khalil. Serentak
seluruh anak yang belum mengerjakan tugas segera mengapitnya dan mulai berebut.
“ Aduh, makasih ya, Lie. Kita jadi tertolong! ” kata Carla yang menuju meja
Khalil.
Aku duduk menjauhi dan melihat majalah yang dari tadi kelihatannya sangat
familiar. Oh, rupanya itu majalah yang terus terlihat sejak aku berjalan dari
koridor. Majalah “ JACKO! ” isinya tentang gosip semua model. Kok ada ya yang
mau beli majalah beginian. Sambil menggeleng, aku menutup majalah itu. Cover
depannya anak cowok berkaca mata dan bertopi.
Ng? Tunggu. Kayaknya aku kenal deh sama wajah itu.
OH ASTAGA! ITUKAN AKUU!!!
Aku menatap lekat-lekat majalah itu. Tidak salah lagi. Itu memang aku.
Siapa yang berani-beraninya menaruh wajahku disitu?! Tunggu, tunggu. Rasanya
aku tahu deh, kapan foto ini diambil. Ini foto waktu dikantor papa.
“ Oh, Charlie rupanya suka melihat model itu, ya? Keren banget ya tuh
cowok! ” celetuk Carla dari depan. “ Wajahnya segerbanget. Lain dari biasanya.
Dia manis banget! ”
“ Sejak kemarin anak-anak cewek sibuk membicarakan dia terus. Apa sih
bagusnya dia? ” kata Adam dari seberang ruangan. Dia sibuk menghapus papan
tulis.
Tanganku gemetar saat melihat fotoku dalam versi cowok. Shock sendiri.
Apa-apaan sih ini? Kok bisa-bisanya Diaz memasukkan fotoku disini? Dasar dia
itu! Apa sih maunya? Papa juga tidak bilang apa-apa! Kenapa jadi begini, sih?!
-------
“ Papa! Apa ini maksudnya?! ”
Sepulang sekolah, setelah mengganti pakaian. Aku langsung melesat ke
Digital Entertainment untuk menanyakan apa maksud dari majalah ini. Papa yang
sibuk dengan film kelihatan kaget saat aku datang tiba-tiba. Beberapa
pegawainya melihat ke arahku dengan sangat berminat.
“ Charlie, kalau mau masuk, ketuk pintu dulu, dong! ” kata papa
mengusap-usap dadanya. “ Papa sampai jantungan. Ada apa sih? Kenapa kau
berpakaian begitu lagi? ”
“ Aku mau tanya soal ini! ” kataku meletakkan majalah “ JACKO! ” ke atas
meja. Papa membulatkan mata dan menganga tidak percaya. Kelihatan jelas kalau
dia tidak tahu mengenai majalah itu.
“ Loh? Kok wajahmu ada disini? ” kata papa heran melihat majalah itu
lekat-lekat.
“ Harusnya itu pertanyaanku! ” kataku sebal. “ Kenapa papa tidak melarang
Diaz agar dia tidak mempromosikan wajahku? ”
“ Eh? Diaz? Papa tidak tahu. Papa bahkan baru tahu. ” kata papa dengan
wajah polos.
“ Mana dia?! ”
“ Aku disini. ” kata Diaz dari balik pintu. Seperti biasa, dia mememgang
kameranya. Hari ini dia memakai T-Shirt ketat yang membentuk tubuhnya yang
berotot. “ Kau membuat kehebohan disini, makanya aku langsung kesini. Ada apa?
”
“ Jelaskan padaku tentang ini! Kau pasti tahu sesuatu kan? ” kataku lagi
memegang majalah itu ke depan hidungnya. “ Kenapa kau menaruh wajahku jadi
cover majalah? ”
“ Bagus kan? Majalah itu jadi laris! ” katanya.
“ Apa?? ”
“ Diluar dugaan, majalah itu laris karena wajahmu. Para pembeli kecewa saat
isinya tidak membahas tentangmu. Apa boleh buat, fotomu cuma satu sih. ”
katanya cuek.
“ Aku tidak tanya soal laris majalah itu! Aku bertanya soal kenapa wajahku
bisa ada disitu! ” kataku sebal. Gigiku merapat.
“ Oh. Aku tidak bisa memotret kalau nggak mood dan saat kau datang
tiba-tiba moodku kembali. Jadi, aku masukkan saja fotomu karena hasilnya
memuaskan. Apalagi pihak produser juga setuju. Kau tidak senang? ” katanya
lagi.
“ Tentu saja! ” kataku. Ini orang tentu saja aku tidak senang kalau
tiba-tiba wajah dalam versi cowok muncul di majalah. Kalau ada orang kenal
gimana coba?
“ Ya, sudah. ” kata Diaz mengangkat bahu dengan tidak peduli.
“ Kau tidak boleh mempublikasikan wajahnya tanpa seizinnya. ” Papa
tiba-tiba berbicara. Nada bicaranya yang tenang dan dalam yang membuat seisi
ruang tersebut menjadi kaget.
“ Bram, aku hanya memotret bukannya merampoknya.” Kata Diaz. “ Lagipula, seharusnya dia senang kalau
wajahnya muncul di majalah. Sekarang kan banyak orang yang ingin menjadi
terkenal.”
“ Aku tidak mau Charlie-ku terkenal. ” kata papa dingin. “ Cukup aku saja
yang bekerja. Kewajibannya saat ini hanya belajar. Bukannya masuk majalah. ”
“ Oh, dia punya kesempatan, Bram! ”
Kali ini muncul lagi orang asing. Laki-laki lagi. Dia memakai stelan jas
dan kacamata. Rambutnya disisir rapi. Dia kelihatan tampan dengan senyum bisnis
yang agak menakutkan. Dia melihat ke arahku dan tersenyum.
“ Ah, Charlie! Kau lebih manis dari yang difoto! ”
Aku mundur dan bersembunyi di balik tubuh papa. Ada sesuatu yang membuatku
takut pada cowok itu. Tapi apa itu aku sendiri tidak tahu.
“ Aku Santiago Duffan, Produser Digital Entertainment. ” katanya ramah. “
Tolong jangan sembunyi dibalik punggung, Bram, aku tidak bisa melihatmu dengan
jelas. ” katanya saat aku kembali menghindarinya yang mencoba menjabat
tanganku. “ Jangan takut begitu. Aku cuma mau mengucapkan terima kasih. Berkat
kau, majalah yang kami rilis, laris manis di pasaran. ”
“ Aku merasa dirugikan karena keuntungan anda! ” kataku masih tetap
bersembunyi.
“ Oh, jadi kau minta keuntungan? Boleh. ”
Aku mengerutkan dahi. Masih belum percaya pada orang itu.
“ Dasar anak papa. Ngapain kau bersembunyi dibalik tubuh, Bram? Kami tidak
akan memakanmu hidup-hidup. ” kata Eugene yang masuk ke ruangan itu bersama dua
temannya yang keliatan tampan. “ Huh! Masa anak laki-laki bertingkah seperti
itu? Bram, kau terlalu memanjakannya. ”
Aku menggelembungkan pipiku. Huh!
“ Tolong semuanya. ” kata papa tiba-tiba. “ Masalah ini akan aku anggap
selesai sampai disini. Sekarang, bisakah kalian kembali ke tempat kerja kalian
masing-masing? Aku masih banyak pekerjaan yang harus aku selesaikan.”
“ Kenapa harus terburu-buru begitu sih, Bram? ” kata Santiago. “ Aku
repot-repot datang kesini karena mendengar kalau Charlie datang. Ada penawaran
bagus yang ingin aku berikan padanya. Kau mau mendengarnya Charlie? ”
“ Kalau kau memintaku jadi model, aku tidak mau! ”
“ Kau anak yang cerdas ya? ” kata Santiago lagi. “ Kau ada bakat buat
dikenal orang loh. Aku pasti mempromosikanmu tanpa masalah. Lagipula--”
“ Aku sudah bilang kan kalu aku tidak mau. Kau tidak dengar? Aku lebih
mementingkan pendidikanku daripada menjadi artis terkenal. ” kataku sebal.
Aku merasakan kalau ada aura mengerikan di belakang punggungnya.
“ Bram, bisakah kau menyuruh anakmu kehadapanku? ” katanya lagi. “ Aku
sebal sekali padanya. Tidak masalah kan kalau dia kupukul? ”
“ Maaf Santiago, bukannya aku bermaksud untuk melawanmu. Tapi, aku tidak
mengijinkan seorang pun melukai anakku. Tidak seorang pun, bahkan itu kau atau
orang yang paling penting baginya. ” kata papa dengan nada dingin.
“ Charlie, kau tahu kan kalau kekuasaanku mutlak? ” katanya padaku. Aku
heran, apa maksudnya dia berkata seperti itu coba?
“ Papa-mu tersayang adalah bawahanku. ” lanjutnya. “ Kau tidak mau dia
kupecatkan? ”
“ Kalau begitu kau itu orang diktator. ” kataku karena bisa menangkap
malsudnya.
“ Kalau kau tidak mau jadi model. Aku akan memecat papamu tersayang. ”
Aku mencengkeram lengan papa. Orang ini tidak bisa digertak dengan mudah.
Sekarang dia mencoba mengatakan akan memecat papaku. Tidak bisa dibiarkan.
Papaku sangat mencintai pekerjaannya. Aku tidak bisa membiarkannya dipecat.
“ Aku lebih memilih dipecat, Santiago. ” kata papa. “ Aku tidak berminat
bekerja jika anakku merasa terbebani. Aku bisa mencari kantor lain yang bisa
menerimaku. ”
Papa...
“ Ayo, Charlie. Kita pulang. Kau pasti belum makan siang kan? ” papa
menarik tanganku. Aku hanya dapat mengikutinya saat dia membawaku menerobos
pegawai-pegawainya beserta beberapa model dan aktor yang ada di dalam.
“ Pa, tunggu. ” kataku mencoba menarik tanganku. Tapi percuma saja,
pegangan papa erat sekali. “ Kalau papa dipecat, papa akan bekerja dimana? ”
“ Papa bisa bekerja dimana saja. Papa bisa jadi teknisi kok, papa juga bisa
jadi koki. Papa tidak keberatan bekerja sebagai apapun asa dapat membesarkanmu
dengan layak. ” kata papa masih menarikku melewati koridor
“ Tapi.. ”
Papa menghela napas. Dia berhenti dan berbalik.
“ Tidak apa-apa, Nak. Papa lebih suka menderita demi kebahagiaanmu.” kata papa
tersenyum. Ini yang aku sukai darinya. Dia selalu bisa tersenyum disaat susah
sekalipun. “ Jangan takut. Semuanya akan baik-baik saja. ”
“ Papa selalu bilang itu kalau kita sedang susah. ” gumamku. Dia tertawa. “
Kok tertawa? ”
“ Sebab papa tidak mau memikirkan hal-hal yang sulit dalam hidup. ” kata
papa sambil merangkulku. “ Dengar, Charlie. Bagiku kau sangat berarti. Aku
tidak akan membiarkanmu terjatuh. Aku sudah berjanji pada mama-mu supaya tidak
terlalu banyak bersedih. Hidup ini untuk dijalani, bukannya dipikirkan. ”
Wuah!! Baru kali ini aku mendengar kata-kata yang bijak seperti itu. Hehe,
papa memang hebat! Tapi walaupun papa-ku orang yang hebat. Aku tidak mau
melihatnya terus berkorban.
“ Pa, kali ini biar Charlie aja deh. ” kataku melepas rangkulan papa.
“ Maksudmu? ” kata papa heran.
“ Kali ini biarkan aku saja yang menjalani hidupku tanpa bantuan papa.
Lagianpula, akhir-akhir ini aku sering merasa bosan. Nggak ada yang menarik.” kataku
melipat tangan sambil berpikir.
“ Charlie, masa sih kamu mau? Tapi nanti kamu jadi--”
“ Sssht. ” aku menutup mulut papa. “ Pa, ini rahasia kita aja ya? Aku gak
mau papa kehilangan pekerjaan cuman karena aku tidak setuju masalah sepele.
Kali ini biar Charlie yang urus. ”
“ Tapi—Lie! ”
Aku tidak mendengar perkataan papa karena aku sudah berbalik menuju kantor
papa. Disana masih berkumpul orang-orang yang tadi. Aku mengetok pintu.
Perhatian langsung beraih padaku.
“ Charlie? ” kata Santiago bangkit dari kursinya. “ Kau kembali? ”
“ Aku bersedia jadi model dengan tiga syarat. ” kataku pada Santiago.
“ Huh, belem jadi model saja, sudah berlagak. ” gerutu Eugene.
“ Apa? ” kata Diaz.
“ Pertama, aku mau pekerjaan papaku kemblai. Kedua, aku tidak mau tampil
tanpa busana di depan kamera dan yang ketiga, aku tidak mau kalian mencari tahu
identitasku. ”
Santiago tercengang unutkbeberapa saat. Kemudian dia menggangguk dan
berkata setuju.
Well... kelihatannya hari-hari yang merepotkan akan segera dimulai.
-------
Tidak ada komentar:
Posting Komentar